Wednesday, December 10, 2014

Puisi Kau Membadai

Posted by Unknown at 1:43 AM
Secangkir kopi hitam telah dingin

Koran pagi pun tak terjamah tak terbaca lagi

Berita-berita tentang pungli yang mengerak di hati

Membuat negeri ini sampai di titik kulminasi

Menyeret keluar segala ular membelit hari



Hiks, lihatlah loyang ini tak berjelaga lagi

Biarlah aku bermain dengan gerai rambutmu

Yang mewangi di bawah kucuran air kaldu

Lalu membusuk di got-got waktu tanpa rindu

Tergencet sepatu penari-penari liar penuh nafsu



Telah berapa lama ujung jarimu membiru

Kelu menghitung titik-titik hitam peradaban

Sambil terbata mengeja nama nenek moyang

Berharap datuk-datuk datang dan meradang

Bebaskan matahari yang tertawan hingga petang



Engkau terlihat lagi dengan rambut tergerai

Mendamba pasir pantai tergoda tubuh gemulai

Tapi di taman helai daun lalang masih melambai

Penjaga mata angin setia tegap di depan gapura

Semalam wajahnya membeku di keliaran pesta



Wahai, berapa kali kau datang membadai

Membawa butir-butir segala kutukan masa silam

Hingga senja pun pergi dengan remuk redam


G+

0 comments:

Post a Comment