Secangkir kopi hitam telah dingin
Koran pagi pun tak terjamah tak terbaca lagi
Berita-berita tentang pungli yang mengerak di hati
Membuat negeri ini sampai di titik kulminasi
Menyeret keluar segala ular membelit hari
Hiks, lihatlah loyang ini tak berjelaga lagi
Biarlah aku bermain dengan gerai rambutmu
Yang mewangi di bawah kucuran air kaldu
Lalu membusuk di got-got waktu tanpa rindu
Tergencet sepatu penari-penari liar penuh nafsu
Telah berapa lama ujung jarimu membiru
Kelu menghitung titik-titik hitam peradaban
Sambil terbata mengeja nama nenek moyang
Berharap datuk-datuk datang dan meradang
Bebaskan matahari yang tertawan hingga petang
Engkau terlihat lagi dengan rambut tergerai
Mendamba pasir pantai tergoda tubuh gemulai
Tapi di taman helai daun lalang masih melambai
Penjaga mata angin setia tegap di depan gapura
Semalam wajahnya membeku di keliaran pesta
Wahai, berapa kali kau datang membadai
Membawa butir-butir segala kutukan masa silam
Hingga senja pun pergi dengan remuk redam
Wednesday, December 10, 2014
Puisi Kau Membadai
Ditulis Oleh : Awidya Firsiades Ain
Artikel Puisi Kau Membadai, diterbitkan oleh Unknown pada hari Wednesday, December 10, 2014. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan Anda.
Artikel Terkait Puisi Kau Membadai: Puisi Emosi
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment